Adul2008's Blog

sedang bertransformasi,, agar tak hanya menjadi zero

hipofisis


KELENJAR HIPOFISIS

PENDAHULUAN

Kelenjar Hipofisis merupakan kelenjar berdiameter kira-kira 1 cm dan beatnya 0,5-1 gram. Hipofisis disebut juga master of glands karena hipofisis dapat menyekresikan hormon yang dapat mengatur kerja tubuh. Namun, kelenjar hipofisis juga dipengaruhi oleh hipotalamus. Mekanisme yang terjadi adalah mekanisme umpan balik yang sangat mempengaruhi kelenjar yang satu dengan kelenjar yang lain.

Kelenjar hipofisis terletak pada rongga tulang pada basis otak. Hipofisis terhubung dengan hipotalamus dan dihubungkan dengan tangkai hipofisis.

Hipofisis terbagi menjadi dua bagian, yaitu hipofsis anterior dan hipofisis posterior. Namun, memang terdapat bagian pars media (Lobus intermedius) yang berada di antara hipofisis anterior dan posterior yang pada manusia hampir tidak ada. Lobus anterior, intermedius, dan posterior kelenjar hipofisis sebenarnya adalah tiga organ endokrin yang kurang lebih terpisah satu sama lain dan, paling tidak pada beberapa spesies, mengandung 14 atau zat hormonal aktif. Dipandang dari sudut embriologi, kedua bagian hipofisis (anterior dan posterior) berasal dari sudut yang berbeda, hipofisis anterior berasal dari kantong Rathke, dan hipofisis posterior berasal dari penonjolan hipotalamus. Kedua bagian tersebut mensekresikan hormon yang bebeda.

1. Lobus Anterior

Hipofisis anterior berasal dari penonjolan dari atap mulut. Dengan demikian hipofisis anterior juga dikenal sebagai adenohipofiusis (adeno berarti ‘kelenjar’). Hipofisis anterior dihubungan ke hipotalamus dengan pembuluih darah .

Jenis Sel di Hipofisis Anterior

Jenis sel pada hipofisis anterior dibagi menjadi dua yaitu kromofob dan kromofil. Sel kromofilik dibagi lagi menjadi asidofil yang terwarnai oleh pewarna asam dan basofil yang terwarnai oleh warna basa. Sejumlah sel kromofobik merupakan sel skretorik yang inaktif dan memiliki sedikit granula sekretorik. Sedangkan sel sekretorik kromofilik tebagi menjadi lima jenis yaitu:

1. sel somatotrop yang menghasilkan hormon pertumbuhan,

2. laktotrop (yang juga disebut mamotrop), yang mensekresikan prolaktin,

3. kortikotrop, yang mengeluarkan ACTH,

4. tirotrop, yang mensekresikan TSH, dan,

5. gonadotrop, yang mensekresikan LH dan FSH.

Kira-kira 30-40 persen sel-sel kelenjar hipofisis anterior merupakan sel jenis somatotropik yang mensekresi ACTH. Sel jenis lain masing-masing hanya 3 sampai 5 persen dari seluruh kelenjar ini; namun, sel-sel ini menskresikan hormon yang sangat kuat untuk mengatur fungsi tiroid, fungsi seksual, dan sekresi susu di payudara. Hipofisis anterior juga mengandung sel folikulostelata, yakni sel kromofob yang mengeluarkan tonjolan antara sel-sel sekretorik. Sel ini mengandung dan mensekresikan sitokin IL-6, namun peran fisiologinya masih belum diketahui.

Struktur Dua-Unit dari FSH, LH, & TSH

Tiga hormon glikoprotein hipofisis yakni FSH, LH dan TSH, masing-masing tersusun atas dua subunit. Subunit tersebut , yang diberi nama α dan β, memiliki sejumlah ativitas tetapi harus bekerja secara kombinasi agar efek fisiologisnya menjadi maksimal. Subunit α ini merupakan hormon sebuah gen dn memliki komposisi asam amino yang sama, walaupunresidu karbohidratnya berbeda. Subunit β, yang dibentuk oleh gen yang berbeda dan berlaian dalam strukturnya, menentukan spesifitas hormon.

Enam hormon yang disekreskan oleh hipofisis anterior adalah:

· Thyroid stimulating hormon (TSH, tirotropin),

Mengatur kecepatan sekresi tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar tiroid, dan selanjutnya mengatur kecepatan sebagian besar reaksi kimia diseluruh tubuh.

· Adrenocorticotropic hormon (ACTH),

Mengatur sekresi beberapa hormon adrenokortikal, yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolism glukosa, protein dan lemak.

· Luteinizing hormon (LH),

Mengatur pertumbuhan gonad sesuai dengan aktivitas reproduksinya. Pada wanita, LH bertanggung jawab dalam ovulasi, luteinisasi (yaitu pembentukan korpus luteum pascaovulasi yang menghasilkan hormon di ovarium), dan penghaturan sekresi hormon seks wanita, estrogen, dan progesterone, oleh ovarium. Pada pria, hormon ini merangsang hormon interstisium leydig di testis untuk mengelluarkan hormon seks pria, testosterone, sehingga hormon ini diberi nama interstitial cell-stimulating hormon.

· Follicle-stimulating hormon (FSH), mengatur pertumbuhan gonad sesuai dengan aktivitas reproduksinya. Memiliki fungsi berbeda pada pria dan wanita. Pada wanita hormon ini berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan dan perkembangan folikel ovarium, tempat berkembangnya ovum atau telur. Selain itu, hormon FSH mendorong sekresi hormon estrogen oleh ovarium. Pada pria, FSH diperlukan dalam reprodiuksi sperma.

· Prolaktin, meningkatkan perkembangan payudara dan pembentukkan susu pada wanita, fungsi pada pria belum diketahui dan

· Hormon pertumbuhan, Meningkatkan pertumbuhan seluruh tubuh dengan cara mempengaruhi pembentukan protein, pembelahan sel, dan deferensiasi sel.

2. Lobus Posterior

Anatomi makroskopik hipofisis posterior sebagian besar terbentuk dari ujung-ujung akson dari nucleus supraoptik dan paraventrikularis hipotalamus pada pembuluh darah, sedangkan hipofisis anterior memiliki hubungan vascular khusus dengan otakyaitu melalui pembuluh hipofisis portal. Pada lobus intermedius dibentuk di embrio dari separuh kantung rathke dari dorsal, yaknisuatu evaginasi atap faring, namun lobus ini melekat erat pada lobus posterior pada orang dewasa. Lobus ini dipisahkan dari lobus anterior oleh sisa-sisa rongga kantong rhatke, yaitu celah residu. Hipofisis posterior secara embriologis terbentuk dari pertumbuhan berlebih otak, terdiri dari jaringan saraf dan disebut juga neurohipofisis. Hipofisis posterior dihubungkan dengan hipotalamus melalui jalur saraf.

Ada 2 jenis hormon yang disekresikan oleh lobus posterior:

  • Hormon Antideuretik (disebit juga vasopresin)

Mengatur kecepatan ekskresi air ke dalam urin dan dengan cara ini akan membantu mengatur konsentrasi air dalam cairan tubuh.

  • Oksitosin

Membantu menyalurkan air susu dari kelenjar payudara ke putting susu selama pengisapan dan mungkin membantu melahirkan bayi pada saat akhir masa kehamilan. Sekresi oksitosin dipengaruhi olehrefleks-refleks yang berasal dari jalan lahir waktu persalinan dan oleh refleks yang dipicu oleh tindakan bayi yang menghisap putting payudara.

3. Lobus Intermedia

Lobus inter media meupakan daerah kecil diantara hipofisis anterior dan posterior yang relative avaskular, yang pada manusia hampir tidak ada sedangkan pada bebrapa jenis binatang rendah ukurannya jauh lebih besar dan lebih berfungsi. Lobus intermedia mengeluarkan beberapa melanocyt-stimulating hormon (MSH) yang mengatur warna kuit dengan mengontrol penyebaran granula berpigmen melanin. Pada manusia, sekresi MSH sangat sedikit dan belum diketahui fungsinya. Pada hewan yang melakukan kamuflase memindahkan granula hitam atau coklat keluar atau masuk dari bagian perifer sel pigmen yang disebut melanofor. Granula tersebut terdiri atas melanin yang disintesis dari dopa dan dopakuinon. Perpindahan granula-granula ini dipengaruhi oleh berbagai hormon dan neurotransmitter, meliputi α- dan β-MSH, melanin concentrating hormon (hormon pemekat melanin), melatonin, dan katekolamin. Melanosit mengandung reseptor melanotropin-1 yakni salah satu dari jenis reseptor melanotropin yang telah berhasil diklon. Pada manusia sekresi hormon MSH dilakukan oleh lobus anterior.

Sistem Portal Hipofisis

Pembuluh darah yang menghubungkan hipotalamus dengan sel- sel kelenjar hipofisis anterior. Pembuluh darah ini berakhir sebagai kapiler pada kedua ujungnya, dan makanya disebut sistem portal. Dalam hal ini sistem yang menghubungkan hipotalamus dengan kelenjar hipofisis disebut juga sistem portal hipotalamus – hipofisis. Sistem portal merupakan saluran vascular yang penting karena memungkinkan pergerakan hormon pelepasan dari hipotalamus ke kelenjar hipofisis , sehingga memungkinkan hipotalamus mengatur fungsi hipofisis. Rangsangan yang berasal dari tak mengaktifkan neuron dalam nucleus hipotalamus yang menyintesis dan menyekresi protein degan berat molekul yang rendah. Protein atau neuro hormon ini dikenal sebagai hormon pelepas dan penghambat. Hormon –hormon ini dilepaska kedalam pembuluh darah sistem portal dan akhirnya mencapai sel – sel dalam kelenjar hipofisis. Dalam rangkaian kejadian tersebut hormon- hormon yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis diangkat bersama darah dan merangsang kelenjar-kelenjar lain ,menyebabkan pelepasan hormon – hormon kelenjar sasaran. Akhirnya hormon – hormon kelenjar sasaran bekerja pada hipothalamus dan sel – sel hipofisis yang memodifikasi sekresi hormon.

HORMON PERTUMBUHAN

Hormon pertumbuhan, atau yang disebut juga sebagai hormon somatotropik atau somatotropin, merupakan hormon yang dihasilkan dari kelenjar hipofisis anterior yang merupakan molekul protein kecil yang terdiri atas 191 asam amino yang dihubungkan dengan rantai tunggal dan mempunyai berat molekul 22.005. Hormon ini menyebabkan pertumbuhan seluruh jaringan tubuh yang memang mampu bertumbuh. Hormon ini menambah ukuran sel dan meningkatkan proses mitosis yang diikuti dengan bertambahnya jumlah sel dan diferensiasi khusus dari beberapa tipe sel seperti sel-sel pertumbuhan tulang dan sel-sel otot awal.

EFEK METABOLIK HORMON PERTUMBUHAN

Selain dari efek hormon pertumbuhan yang menyebabkan pertumbuhan. Hormon pertumbuhan mempunyai banyak efek metabolik khusus lain, yang meliputi :

1. Peningkatan kecepatan sintesis protein diseluruh sel-sel tubuh

2. Meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan adiposa, meningkatkan asam lemak bebas dalam darah, dan meningkatkan penggunaan asam lemak untuk energi

3. menurunkan kecepatan pemakaian glukosa diseluruh tubuh

Jadi, secara singkat efek metabolik hormon pertumbuhan adalah meningkatkan protein tubuh, menggunakan lemak dari tempat penyimpanannya, dan menghemat karbohidrat.

Peran Hormon Pertumbuhan dalam Meningkatkan Penyimpanan Protein

  1. Bertambahnya pengangkutan asam amino melewati membran sel. Hormon pertumbuhan secara langsung meningkatkan pengangkutan paling sedikit beberapa dan mungkin sebagian besar asam amino melewati membran sel ke bagian dalam sel. Keadaan ini meningkatkan konsentrasi asam amino di dalam sel dan paling tidak berperan sebagian terhadap naiknya sintesis protein.
  2. Peningkatan transkripsi inti DNA untuk membentuk RNA. Hormon pertumbuhan juga merangsang transkripsi DNA di dalam inti, sehingga meningkatkan jumlah pembentukan RNA. Keadaan ini selanjutnya meningkatkan sintesis protein dan juga meningkatkan pertumbuhan bila energi, asam amino, vitamin, dan bahan-bahan lain cukup tersedia.
  3. Penurunan katabolisme protein dan asam amino. Karena terjadi pengangkutan asam lemak yang banyak dan digunakan sebagai sumber energi

Peran Hormon Pertumbuhan dalam Meningkatkan Pemakaian Lemak sebagai Energi

Hormon pertumbuhan mempunyai efek yang spesifik dalam menyebabkan pelepasan asam lemak dari jaringan adiposa sehingga meningkatkan konsentrasi asam lemak dalam cairan tubuh. Selain itu, di dalam jaringan di seluruh tubuh, hormon pertumbuhan meningkatkan perubahan asam lemak menjadi asetil-KoA dan kemudian digunakan untuk energi. Oleh karena itu, di bawah pengaruh hormon pertumbuhan ini, lebih disukai lemak sebagai energi daripada karbohidrat dan protein.

Dibawah pengaruh jumlah hormon pertumbuhan yang berlebihan, pengangkutan lemak dari jaringan adiposa seringkali menjadi sangat besar sehingga sejumlah besar asam asetoasetat dibentuk di hati dan dilepaskan kedalam cairan tubuh, dengan demikian menyebabkan ketosis. Pergerakan lemak yang berlebihan dari jaringan adiposa juga dapat menyebabkan perlemakan hati.

Efek Hormon Pertumbuhan terhadap Metabolisme Karbohidrat

Hormon pertumbuhan mempunyai empat pengaruh utama terhadap metabolisme glukosa dalam sel, yaitu:

1. Penurunan pemakaian glukosa untuk energi. Berkurangnya pemakaian mungkin sebagian disebabkan oleh meningkatnya pengangkutan dan penggunaan asam lemak untuk mendapatkan energi yang disebabkan pengaruh hormon pertumbuhan. Jadi, asam lemak membentuk banyak sekali asetil-KoA yang sebaliknya memicu timbulnya efek umpan balik yang menghambat pemecahan glikolitik dari glukosa dan glikogen.

2. Peningkatan endapan glikogen di dalam sel. Bila terdapat kelebihan, hormon pertumbuhan, makan glukosa dan glikogen tidak dapat digunakan sebagai hasil energi sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel dengan cepat dipolimerisasi menjadi glikogen dan selanjutnya diendapkan. Oleh karena itu, sel sangat cepat menjadi jenuh oleh glikogen dan tidak dapat glikogen lebih banyak.

3. Berkurangnya ambilan glukosa oleh sel dan meningkatnya konsentrasi glukosa darah. Hal ini mungkin terjadi karena sel itu sudah menyerap glukosa yang berlebihan yang sudah sulit digunakan. Tanpa ambilan dan penggunaan oleh sel secara normal, konsentrasi glukosa darah sering meningkat sampai 50 persen atau lebih diatas normal dan keadaan ini disebut dengan diabetes hipofisis. Diabetes ini adalah diabetes yang tidak peka terhadap insulin.

4. Peningkatan sekresi insulin, yang merupakan efek diabetogenik dari hormon pertumbuhan. Peningkatan konsentrasi glukosa darah disebabkan oleh rangsangan hormon pertumbuhan terhadap sel-sel beta pulau Langerhans untuk mensekresikan insulin tambahan. Selain itu, hormon pertumbuhan mempunyai efek perangsangan langsung pada sel. Gabungan dari kedua efek tersebut seringkali sangat merangsang insulin oleh sel-sel beta sehingga sel-sel beta tersebut sesungguhnya ”mati”. Bila hal ini terjadi, timbul diabetes melitus. Oleh karena itu, hormon pertumbuhan dikatakan mempunyai efek diabetogenik.

SOMATOMEDIN

Efek hormon pertumbuhan pada pertumbuhan, tulang rawan dan metabolisme protein bergantung pada interaksi antara hormon pertumbuhan dan somatomedin, yang merupaka faktor pertumbuhan polipeptida yang disekresikan oleh hati dan jaringan lain.

Somatomedin utama dalam darah adalah insulin-like growth factor I (IGF-I, somatomedin C) dan insulin-like growth factor II (IGF-II). Faktor-faktor ini berkaitan dengan insulin, kecuali rantai C-nya tidak terpisah dan memiliki perluasan rantai A yang disebut domain D. pada manusia, ditemukan bentuk varian IGF-I yang tidak memiliki tiga residu asam amino terminal-amino di otak. mRNA untuk IGF-I dan IGF-II ditemukan di hati, tulang rawan, dan banyak jaringan lain, yang menunjukan bahwa molekul-molekul tersebut disintesis dari jaringan tersebut.

Sifat IGF-I, IGF-II dan insulin dapat dilihat pada tabel dibawah ini

(GAMBAR TABEL PERBANDINGAN)

Keduanya berikatan erat dengan protein dalam plasma sehingga memperpanjang waktu paruh IGF dalm sirkulasi. Saat ini telah teridentifikasi enam protein pengikat-IGF yang berbeda-beda, dengan pola distribusi di berbagai jaringan yang berlainan pula. Semua ditemukan dalam plasma, dengan protein pengikat-IGF 3 (IGFBP-3) berperan pada 95% pengikatan dalam sirkulasi. Reseptor IGF-I sangat mirip dengan reseptor insulin dan mungkin menggunakan banyak perangkat intrasel yang sama. Reseptor IGF-II adalah suatu reseptor manosa-6-fosfat yang berperan dalam membawa hidrolase asam dan protein intrasel lain ke organel-organel intrasel. Sekresi IGF-I sebelum lahir tidak tergantung pada hormon pertumbuhan tetapi setelah lahir dirangsang oleh hormon pertumbuhan, dan molekul ini memiliki efek kuat menstimulasi pertumbuhan. Konsentrasi dalam plasma meningkat selama masa kanak-kanak dan memuncak pada masa pubertas, kemudian turun ke kadar yang rendah pada saat usia lanjut. Pada orang dewasa, gen untuk IGF-II diekspresikan hanya pada pleksus koroideus dan meningen.

Hormon pertumbuhan berlekatan secara lemah dengan protein plasma dalam darah. Oleh karena itu, hormon pertumbuhan dilepaskan dari darah kedalam jaringan dengan cepat, dengan waktu paruh di dalam darah sekita 20 menit. Sebaliknya, somatomedin C (IGF-I) melekat dengan kuat pada satu protein pembawa di dalam darah yang diproduksi sendiri responnya terhadap hormon pertumbuhan. Akibatnya, somatomedin C dilepaskan dengan lambat dari darah ke jaringan dengan waktu paruh kira-kira 20 jam.

Rangsangan yang Mempengaruhi Sekresi Hormon Pertumbuhan

Kecepatan sekresi hormon pertumbuhan tidak dapat ditentukan dari satu kali penilaian karena setiap hari terjadi ’letupan’ sekresi yang ireguler. Semakin bertambah usia seseorang, semakin berkurang sekresi hormon pertumbuhannya. Dan banyak pihak yang memanfaatkan penyuntikan hormon pertumbuhan untuk mengimabngi efek penuaan.

Rangsangan yang dapat meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan secara umum dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. defisiensi substrat energi, seperti hipoglikemia (rendahnya konsentrasi asam lemak dalam darah) dan puasa. Sangat tingginya jumlah hormon pertumbuhan selama kelaparan, sangat berhubungan erat dengan banyaknya protein yang pecah dan jumlah glukosa yang ada sehingga zat yang diperlukan untuk menghasilkan energi di suatu sel menjadi berkurang.
  2. jumlah asam amino tertentu meningkat dalam plasma
  3. stres

Sedangkan rangsangan yang dapat mengurangi sekresi antara lain:

  1. Tidur REM (Rapid Eye Movement), yaitu tidur dengan adanya gerakan mata yang cepat dan acak.
  2. Glukosa. Pemberian infus glukosa menurunkan kadar hormon pertumbuhan dalam plasma dan menghambat responsnya terhadap olahraga.
  3. Kortisol
  4. Asam Lemak bebas
  5. medroksiprogesteron
  6. hormon pertumbuhan

FISIOLOGI PERTUMBUHAN

Pertumbuhan merupakan suatu fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh hormon pertumbuhan, somatomedin, tiroid, androgen, glukokortikoid, dan insulin. Akan tetapi, pertumbuhan juga dipengaruhi oleh gizi yang adekuat.

Peran Gizi

Pasokan makanan merupakan faktor ekstrinsik terpenting yang mempengaruhi petumbuhan. Asupan makanan tidak hanya dalam kandungan protein tetapi juga dalam kandungan vitamin dan mineral.

Periode Pertumbuhan

Pada manusia, terdapat dua periode pertumbuhan yang cepat yaitu:

  1. pada masa bayi à merupakan kelanjutan dari periode pertumbuhan masa janin.
  2. pada masa pubertas lanjut tepat sebelum pertumbuhan terhenti à lonjakan pertumbuhan sebagian besar disebabkan oleh penutupan epifisis oleh estrogen, hormon pertumbuhan, androgen, dan terhentinya petumbuhan.

Kecepatan pertumbuhan pada anak laki-laki dan perempuan dai lahir samapi usia 20 tahun digambarkan dalam grafik berikut.

usia

Efek Hormon

Pada bayi yang baru lahir, hormon pertumbuhan dalam plasma meningkat. Kemudian kadar istirahat rata-rata menurun, namun letupan sekresi hormon pertumbuhan lebih besar khususnya selama pubertas. Lonjakan pertumbuhan yang terjadi selama pubertas sebagian disebabkan oleh anabolik androgen dan sekresi androgen adrenal, adanya interaksi antara steroid-steroid seks, hormon pertumbuhan, dan IGF-I. Pemberian estrogen dan androgen meningkatkan respons hormon pertumbuhan terhadap rangsangan seperti insulin dan arginin, serta IGF-I plasma.

Akan tetapi, walaupun awalnya androgen adn estrogen merangsang pertumbuhan, estrogen sendiri akhirnya menghentikan pertumbuhan dengan menyebabkan penyatuan epifisis dengan tulang panjang (penutupan epifisis). Begitu epifisis menutup, pertumbuhan linear terhenti. Hal inilah yang menyebabkan mengapa seseorang yang mengalami pubertas dini akan cenderung cebol. Sementara itu, pria yang dikastrasi sebelum pubertas akan cenderung berbadan tinggi karena produksi estrogen berkurang dan epifisis tetap terbuka sehingga sebagian pertumbuhan terus berlanjut melewati usia normal pubertas.

Hormon tiroid memilki efek beragam pada penulangan tulang rawan, pertumbuhan gigi, kontur wajah, dan proporsi tubuh; hormon insulin akan menyebabkan pertumbuhan pada hewan yang di hipofisektomi. Sedangkan hormon adrenokorteks, selain androgen, memiliki efek permisif pada pertumbuhan. Di pihak lain, hormon glukokortikoid berperan dalam menjadi inhibitor yang kuat dalam pertumbuhan.

Cebol (Dwarfisme)

Dwarfisme dapat disebabkan oleh defisiensi GRH, defisiensi IGF-I, atau penyebab lainnya. Beberapa kasus dwarfisme disebabkan oleh defisiensi seluruh sekresi kelenjar hipofisis anterior atau disebut panhipopituitarisme selama masa anak-anak. Pada umumnya, pertumbuhan bagian-bagian tubuh sesuai satu sama lain, tetapi kecepatan pertumbuhannya sangat berkurang. Defisiensi hormon pertumbuhan biasanya disebabkan oleh defisiensi GRH. Pada keadaan ini, respons hormon pertumbuhan terhadap GRH tetap normal, tetapi sebagian penderita mengalami kelainan pada sel-sel pensekresi hormon pertumbuhan.

Pada satu tipe dwarfisme, yaitu pada Lorain dwarf, kecepatan sekresi hormon pertumbuhannya normal atau malahan tinggi, namun penderita mengalami ketidak mampuan herediter untuk membentuk somastostatin sebagai respons terhadap hormon pertumbuhan.

Perawakan pendek merupakan cirri kretinisme dan juga pubertas prekoks. Perawakan pendek juga merupakan bagian dari sindrom disgenesis gonad yang tampak pada penderita berkromosom XO (bukan XX atau XY). Anak-anak menderita child abuse juga dapat menderita kecebolan yang disebut cebol psikososial. Bentuk cebol yang paling sering terjadi pada manusia adalha akondropalsia. Tanda-tandanya adalah ekstremitas pendek dengan batang tubuh tetap normal. Kelainan ini adalah penyakit genetic autosom akibat mutasi gen.

INSUFISIENSI HIPOFISIS

Tumor hipofisis anterior dapat menyebabkan insufisiensi hipofisis. Selain itu, hipopituitarisme dapat juga dikarenakan kista suprasel, yaitu sisa kantong Rathke yang membesar dan menekan hipofisis.

HIPERFUNGSI HIPOFISIS PADA MANUSIA

Arkomegali

Tumor sel somatotrop hipofisis anterior mensekresi sejumlah besar hormon pertumbuhan. Pada anak-anak disebut gigantisme sedangkan pada orang dewasa disebut arkomegali. Tepatnya adalah pembesaran atau pertumbuhan jaringan ikat longgar dan bertambahnya ketebalan tulang, yaitu pada tulang-tulang kecil tangan dan kaki, tengkorak, hidung, penonjolan tulang dahi, tepi supraorbital, bagian bawah rahang, dan bagian tulang vertebra. Hipersekresi ini disertai dengan hipersekresi prolaktin pada 20-40 % pasien arkomegali.

Sindrom Cushing

Sindrom Cushing disebabkan karena kadar cortisol berlebih. Hipotalamus mensekresikan CRH (Coticotropin releasing hormon) ke hipofisis. CRH menyebabkan hipofisis mensekresi ACTH (Adrenocorticotropin hormon) yang menstimulus kelenjar adrenal menghasilkan cortisol ke dalam darah. Tanda-tanda dan keluhan yang terjadi antara lain obesitas di bagian atas tubuh, wajah membulat, kulit terluka dengan mudah, lemah tulang, mentruasi tidak teratur pada wanita, dan infertilitas pada pria.

*disunting dari berbagai sumber

About these ads

3 Komentar»

  moore boy wrote @

thAX a lot
sangat membantu terhadap pemahaman tentang hormon hipofisis anterior, tapi koq gambarnya ga ada ya?

  adul2008 wrote @

iya, maaf belum sempat masukin gambar..
silakan dicari di google saja..^^

  arfgan wrote @

ahaha… sip sip..sip…
makasih yhaa

semoga informasinya benar
hehhe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: